Bersama Kita Bisa…Bersama Kita Mudah
A. Pengertian PAIKEM
PAIKEM adalah suatu akronim yang digunakan dalam konteks
pembelajaran. Akronim sejenis yang digunakan yakni ASIK yang berarti
Aktif, Senang, Inovatif dan Kreatif. Secara umum memang dikenal dengan
sebutan PAKEM yakni Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan. Tetapi seiring dengan perkembangannya ditambah dengan
pengembangan dari pembelajaran kreatif yakni pembelajaran yang inovatif.
Dan sekarang lebih dikenal dengan PAIKEM yaitu Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.
Menurut Syah dan Kariadinata (2009: 1) PAIKEM merupakan singkatan
dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
Selanjutnya, PAIKEM dapat didefinisikan sebagai: pendekatan mengajar
(approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan
pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian
rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif,
dan menyenangkan
Adapun maksud dari masing-masing kata PAIKEM menurut Suparlan dkk,
(2008: 70) yaitu : 1) Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran
guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik
aktif mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan, dan memecahkan
masalah. 2) Inovatif yaitu guru harus menciptakan kondisi belajar dan
kegiatan pembelajaran yang baru sesuai tuntutan dan perkembangan
pendidikan. 3) Kreatif yaitu guru menciptakan kegiatan belajar yang
beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. 4) Efektif
yaitu menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses
pembelajaran yakni mencapai tujuan/kompetensi yang ditetapkan. 5)
Menyenangkan yaitu guru harus mampu menciptakan suasana belajarmengajar
yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya tinggi.
Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) merupakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa dituntut untuk mandiri dan
aktif dalam mengikuti pembelajaran, sedangkan guru bertugas sebagai
motivator dan fasilitator. Setiap kegiatan yang dilakukan siswa selalu
dipantau dan setiap kesulitan yang dihadapi siswa selalu memberi solusi.
Secara garis besar Suparlan, dkk (2008: 71) menggambarkan PAIKEM
sebagai berikut : 1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang
mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada
belajar melalui berbuat.
2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan
semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk
menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa.
3) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
4) Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasan dan melibatkan
siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Berdasarkan pendapat tersebut menggambarkan bahwa PAIKEM diantara
guru dan siswa merupakan hubungan timbal balik. Guru berusaha merancang
pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus aktif dalam kegiatan
belajar-mengajar. Dengan kata lain, antara guru dan siswa terjalin
koordinasi
pembelajaran yang interaktif dan setiap kegiatan yang dilakukan siswa selalu dipantau oleh guru.
B. Tujuan PAIKEM
Pembelajaran berbasis PAIKEM membantu siswa mengembangkan kemampuan
berfikir tahap tinggi, berfikir kritis, dan berpikir kreatif (critical
and creative thinking). Berpikir adalah suatu kecakapan nalar secara
beratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik
keputusan, member keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
Berpikir creative adalah suatu kegiatan mental untuk mental untuk
meningkatkan kemurnian (originality), ketajaman pemahaman (insigt) dalam
mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah
merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Dalam pembelajaran pemecahan masalah, siswa secara individual atau
kelompok diberi tugas untuk memecahkan suatu masalah. Jika memungkinkan
masalah diidentifikasi dan dipilih oleh siswa sendiri, dan
diidentifikasi hendaknya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan
serta sering dilihat atau diamati oleh siswa sendiri, umpamanya masalah
kemiskinan, kejahatan, kemacetan lalu lintas, pembusukan makanan, wabah
penyakit, kegagalan panen, pemalsuan produk atau soal-soal dalam tiap
mata plejaran yang membutuhkan analisis dan pemahaman tingkat tinggi,
dsb.
C. Karakteristik PAIKEM
Menurut
Syah dan Kariadinata (2009: 3-4)
- Berpusat pada siswa (student-centered );
- Belajar yang menyenangkan (joyfull learning);
- Belajar yang berorientasi pada tercapainya kemampuan tertentu (competency-based learning);
- Belajar secara tuntas (mastery learning);
- Belajar secara berkesinambungan (continuous learning);
- Belajar sesuai dengan ke-kini-an dan ke-disini-an (contextual learning).
Sesuai dengan singkatan PAIKEM, maka pembaljaran yang berfokus pada
siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks
kehidupan dan lingkungan ini memiliki 4 ciri yaitu: mengalami,
komunikasi, interaksi dan refleksi.
1. Mengalami (pengalaman belajar), antara lain:
- Melakukan pengamatan
- Melakukan percobaan
- Melakukan penyelidikan
- Melakukan wawancara
- Siswa belajar banyak melalui berbuat
- Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera.
2. Komunikasi, bentuknya antara lain:
- Mengemukakan pendapat
- Presentasi laporan
- Memajangkan hasil kerja
- Ungkap gagasan
3. Interaksi, bentuknya antara lain:
- Diskusi
- Tanya jawab
- Lempar lagi pertanyaan
- Kesalahan makna berpeluang terkoreksi
- Makna yang terbangun semakin mantap
- Kualitas hasil belajar meningkat
4. Kegiatan refleksi yaitu memikirkan kembaliapa yang diperbuat atau dipikirkan.
- Mengapa demikian?
- Apakah hal itu berlaku untuk?
- Untuk perbaikan gagasan/ makna
- Untuk tidak mengalami kesalahan
- Peluang lahirkan gagasan baru
Dari karakteristik PAIKEM tersebut, maka guru perlu memberikan
dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam
membangun gagasan. Tanggung jawab belajar, memang berada pada diri
siswa, tetapi guru bertanggung jawab dalam meberikan situasi yang
mendorong prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi dan transoer
dalam belajar, sebagai bentuk tanggung jawab siswa untuk belajar
sepanjang hayat.
D. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Melaksanakan PAIKEM
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
(PAIKEM) merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut
Suparlan, dkk (2008: 74) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
melaksanakan PAIKEM yaitu :
1) Memahami sifat yang dimiliki anak Pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi.
Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi perkembangan sikap
berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu
lahan yang harus diolah guru sehingga subur bagi perkembangan kedua
sifat tersebut.
2) Mengenal anak secara perorangan
Masing-masing siswa/anak berasal dari lingkungan keluarga yang
bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM perbedaan
individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan
pembelajaran. Dengan mengenal kemampuan anak, guru dapat membantunya
bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak menjadi optimal.
3) Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain
berpasangan atau berkelompok. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorganisasian belajar. Dengan duduk berkelompok akan memudahkan
mereka untuk saling berinteraksi dan bertukar pikiran dalam
menyelesaikan tugasnya.
4) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Kemampuan berpikir
kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan
alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berfikir tersebut berasal dari
rasa ingin tahu dan berimajinasi oleh karena itu tugas guru adalah
mengembangkannya dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan
pertanyaan yang terbuka.
5) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajang untuk dapat memberi motivasi
siswa bekerja lebih baik lagi dan menimbulkan inspirasi bagi siswa
lainnya. Dan juga dapat dijadikan rujukan bagi guru ketika membahas
suatu masalah.
6) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) sebagai bahan dan sumber
belajar perlu dimanfaatkan oleh guru, agar anak menjadi lebih senang,
dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati, mencatat,
merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan,
membuat gambar dan lainnya.
7) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Umpan balik merupakan interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik
hendaknya lebih mengungkapkan kekuatan daripada kelemahan siswa dan
diberikan secara santun untuk menanamkan rasa percaya diri. Guru harus
konsisten memeriksa dan memberikan hasil pekerjaan siswa.
8) Membedakan antara aktif fisikal dan aktif mental
Aktif mental lebih diutamakan daripada aktif secara fisikal. Hal ini
dimaksudkan untuk menimbulkan keberanian dari siswa. Guru hendaknya
mampu menghilangkan perasaan penyebab rasa takut tersebut.
Hal-hal di atas jika diperhatikan dengan baik maka akan member
peluang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
(PAIKEM) akan berhasil. Ciri-ciri PAIKEM berhasil, Menurut Suparlan, dkk
(2008: 95) adalah “aktif, kritis, kreatif, kematangan emosional-sosial
meningkat, produktif dan siap menghadapi perubahan”. Dan tidak diragukan
lagi jika PAIKEM benar-benar dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya
maka tujuan pendidikan seperti apa yang diharapkan dalam Undang-Undang
yakni membentuk watak dan mengembangkan potensi anak didik akan
tercapai.
E. PENJABARAN PAIKEM
1. Pembelajaran Aktif
Secara harfiah
active artinya:
”in the habit of doing things, energetic” (Hornby, 1994:12) dalam
Syah dan Kariadinata (2009: 13) , artinya terbiasa berbuat segala hal dengan menggunakan segala daya. Pembelajaran yang
aktif berarti
pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru secara
fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual. Guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan
pengalaman langsung, sehingga belajar merupakan proses aktif siswa dalam
membangun pengetahuannya sendir.
Menurut Taslimuharrom (2008) dalam
Syah dan Kariadinata (2009: 14-15) sebuah proses belajar dikatakan aktif
(active learning) apabila mengandung:
1) Keterlekatan pada tugas
(
Commitment)
Dalam hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya bermanfaat bagi siswa (
meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (
relevant), dan bersifat/memiliki keterkaitan dengan kepentingan pribadi (
personal);
2) Tanggung jawab (
Responsibility)
Dalam hal ini, sebuah proses belajar perlu memberikan wewenang kepada
siswa untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan guru
lebih banyak mendengar dan menghormati ide-ide siswa, serta memberikan
pilihan dan peluang kepada siswa untuk mengambil keputusan sendiri.
3) Motivasi (
Motivation)
Proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi
intrinsic
siswa. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari
dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan
belajar. Dalam perspektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih
signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik (bukan ekstrinsik)
karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan
atau pengaruh orang lain. Dorongan mencapai prestasi dan memiliki
pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, umpamanya, memberi
pengaruh lebih kuat dan relatif lebih langgeng dibandingkan dengan
dorongan hadiah atau dorongan keharusan dari orangtua dan guru. Motivasi
belajar siswa akan meningkat apabila ditunjang oleh pendekatan yang
lebih berpusat pada siswa (
student centered learning). Guru
mendorong siswa untuk aktif mencari, menemukan dan memecahkan masalahnya
sendiri. Ia tidak hanya menyuapi murid, juga tidak seperti orang yang
menuangkan air ke dalam ember.
Mengapa harus aktif?
Menurut Yani (2010), dalam proses pembelajaran, yang akan mencapai
tujuan belajar adalah siswa bukan guru. Guru hanya diminta untuk
menciptakan situasi yang kondusif agar siswa dapat belajar. Jika pihak
yang belajar tidak aktif, maka sebenarnya tidak ada kata belajar. Cerita
tentang kambing yang dipaksa minum, mungkin kita dapat mengikat kambing
dan mengendongnya (jika perlu) ke tepi sungai tetapi jika kambing emoh
minum akan sulit kita memaksanya. Begitu juga belajar, guru diharapkan
mampu memberi motivasi agar siswa mau aktif untuk belajar. Usaha guru
memberi motivasi dan mempertahankan perhatian siswa terhadap
pembelajaran adalah dengan cara atau metode pembelajaran yang
menyenangkan.
Kriteria Pembelajaran Aktif:
Siswa melakukan sesuatu dan memikirkan apa yang mereka lakukan seperti:
- Menulis
- Berdiskusi
- Berdebat
- Memecahkan masalah
- Mengajukan pertanyaan
- Menjawab pertanyaan
- Menjelaskan
- Menganalisis
- Mensintesa
- Mengevaluasi
2. Pembelajaran Inovatif
McLeod (1989:520) dalam
Syah dan Kariadinata (2009: 16) mengartikan inovasi sebagai:
“something newly introduced such as method or device”. Berdasarkan takrif ini, segala aspek (metode, bahan, perangkat dan sebagainya) dipandang
baru
atau bersifat inovatif apabila metode dan sebagainya itu berbeda atau
belum dilaksanakan oleh seorang guru meskipun semua itu bukan barang
baru bagi guru lain.
Syah dan Kariadinata (2009: 16) Pembelajaran
inovatif dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila
dilakukan dengan cara meng- integrasikan media/alat bantu terutama yang
berbasis teknologi baru/maju ke dalam proses pembelajaran tersebut.
Sehingga, terjadi proses
renovasi mental, di antaranya membangun rasa pecaya diri siswa. Penggunaan bahan pelajaran,
software multimedia, dan
microsoft power point merupakan salah satu alternatif.
Pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu membuat siswa yang
mempunyai kapasitas berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan
masalah. Siswa yang seperti ini mampu menggunakan penalaran yang jernih
dalam proses memahami sesuatu dan piawai dalam mengambil pilihan serta
membuat keputusan. Hal itu dimungkinkan karena pemahaman interkoneksi di
antara system atau subsistem terkait dengan persoalan yang dihadapinya.
Juga terlihat kemampuan mengidentifikasi dan menemukan pertanyaan tepat
yang dapat mengarah kepada pemecahan masalah secara lebih baik.
Informasi yang diperolehnya akan dikerangkakan, dianalisis dan
disintesiskan sehingga akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut dengan baik.
Pembelajaran yang inovatif juga tercermin dari hasil yang
diperlihatkan siswa yang komunikatif dan kolaboratif dalam
mengartikulasikan pikiran dan gagasan secara jelas dan efektif melalui
tuturan / lisan dan tulisan. Siswa dengan karakteristik semacam ini
dapat menunjukkan kemampuan untuk bekerja secara efektif dalam tim yang
beraneka, untuk memainkan fleksibilitas dan kemauan berkompromi dalam
mencapai tujuan bersama.
3. Pembelajaran Kreatif
Menurut Syah dan Kariadinata (2009: 32) Kreatif (
creative) berarti menggunakan hasil ciptaan / kreasi baru atau yang berbeda dengan sebelumnya. Pembelajaran yang
kreatif
mengandung makna tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan kurikulum.
Kurikulum memang merupakan dokumen dan rencana baku, namun tetap perlu
dikritisi dan dikembangkan secara kreatif. Dengan demikian, ada
kreativitas pengembangan kompetensi dan kreativitas dalam pelaksanaan
pembelajaran di kelas termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber
bahan dan sarana untuk belajar. Pembelajaran kreatif juga dimaksudkan
agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi
berbagai tingkat kemampuan siswa dan tipe serta gaya belajar siswa
Kriteria Kreatif:
- Berpikir kritis
- Memecahkan masalah secara konstruktif
- Ide/ gagasan yang berbeda
- Berfikir konvergen (pemecahan masalah yang “benar” atau “terbaik”).
- Berfikir divergen (beragam alternative pemecahan masalah)
- Fleksibelitas dalam berpikir (melihat dari berbagai sudut pandang)
- Berfikir terbuka
4. Pembelajaran Efektif
Menurut Syah dan Kariadinata (2009: 33) Pembelajaran dapat dikatakan
efektif (
effective /
berhasil guna) jika mencapai sasaran atau minimal mencapai kompetensi
dasar yang telah ditetapkan. Di samping itu, yang juga penting adalah
banyaknya pengalaman dan hal baru yang “didapat“ siswa. Guru pun
diharapkan memeroleh “pengalaman baru” sebagai hasil interaksi dua arah
dengan siswanya.
Untuk mengetahui keefektifan sebuah proses pembelajaran, maka pada
setiap akhir pembelajaran perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi yang
dimaksud di sini bukan sekedar tes untuk siswa, tetapi semacam refleksi,
perenungan yang dilakukan oleh guru dan siswa, serta didukung oleh data catatan guru. Hal ini sejalan dengan kebijakan
penilian berbasis kelas atau penilaian
authentic yang lebih menekan- kan pada penilaian proses selain penilaian hasil belajar (Warta MBS UNICEF : 2006
dalam Syah dan Kariadinata (2009: 32) )
Kriteria Efektif:
Ketercapaian target hasil belajar, dapat berupa:
- Siswa menguasai konsep
- Siswa mampu mengaplikasikan konsep pada masalah sederhana
- Siswa menghasilkan produk tertentu
- Siswa termotivasi untuk giat belajar
5. Pembelajaran Menyenangkan
menurut
Syah dan Kariadinata (2009: 34) Pembelajaran yang menyenangkan (
joyful)
perlu dipahami secara luas, bukan hanya berarti selalu diselingi dengan
lelucon, banyak bernyanyi atau tepuk tangan yang meriah. Pembelajaran
yang menyenangkan adalah pembela- jaran yang
dapat dinikmati siswa. Siswa merasa nyaman, aman dan asyik. Perasaan yang mengasyikkan mengandung unsur
inner motivation, yaitu dorongan keingintahuan yang disertai upaya mencari tahu sesuatu.
Menurut Suprijono (2009) pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran dengan suasana
Socio emotional climate positif.
Peserta didik merasakan bahwa proses belajar yang dialaminya bukan
sebuah derita yang mendera dirinya, melainkan berkah yang harus
disyukurinya. Belajar bukanlah tekanan jiwa pada dirinya, namun
merupakan panggilan jiwa yang harus ditunaikannya.

Gambar Pembelajaran Yang Menyenangkan
Kriteria Menyenangkan:
Pembelajaran berlangsung secara:
- Interaktif
- Dinamik
- Menarik
- Menggembirakan
- Atraktif
- Menimbulkan inspirasi
Berikut ini adalah beberapa teknik yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar – mengajar yang aktif (PAIKEM).
1.
Think-Pair-Share merupakan kegiatan
sederhana di kelas. Guru memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan
tentang sebuah topik, berdiskusi dengan teman sebayanya, dan berbagai
hasilnya dengan teman lain di kelasnya.
2.
Minute Papers ialah kegiatan guru
memberikan peluang kepada siswa untuk menyintesiskan pengetahuannya dan
menjawab pertanyaan seperti apa hal yang paling penting yang telah
dipelajari hari ini? Apa pertanyaan yang belum terjawab? Dan pertanyaan
lainnya yang menyangkut kegiatan belajar mengajar yang telah dilaluinya.
3.
Writing Activities merupakan peluang bagi siswa untuk berpikir dan memproses informasi yang dimilikinya. Misalnya sebagai tambahan kegiatan
Minutes Papers di
atas, guru dapat memberikan sebuah pertanyaan yang dari satu siswa
diberi waktu untuk secara bebas menuliskan jawabannya. Tentu saja guru
juga bisa memberikan topik; untuk menjadi bahan yang akan ditulis oleh
siswanya.
4.
Brainstorming merupakan teknik sederhana
lainnya yang dapat melibatkan semua siswa di dalam kelas untuk
berdiskusi. Dengan mengetengahkan sebuah topik, guru dapat meminta
masukan dari siswanya dan mencatat masukan – masukan itu pada papan
tulis.
5. Games merupakan teknik yang biasanya menarik banyak siswa. Bisa termasuk di dalamnya
matching, mysteries, group competitions, solving puzzles, dan lain sebagainya.
6.
Debates yang ditampilkan di kelas bisa
menjadi alat yang efektif dalam mendorong siswa untuk berpikir tentang
sesuatu dari arah yang berbedabeda.
7.
Group work dapat menjadi peluang bagi
setiap siswa untuk berbicara, berbagi pandangan, dan mengembangkan
keterampilan untuk berkolaborasi dengan orang lain.
8.
Case Studies biasanya menggunakan cerita
nyata dari kehidupan seharihari yang terjadi pada masyarkat di
lingkungan siswa itu sendiri, dalam keluarga, dalam sekolah, atau yang
terjadi pada seseorang di antara para siswa itu. Hal ini akan memberikan
wawasan tentang situasi nyata, langkah yang sebaiknya diambil, dan
akibat-akibat yang mungkin terjadi.
9.
Concept mapping membantu siswa untuk
bisa menciptakan representasi visual dari model, gagasan, dan hubungan
antara konsep. Mereka menggambarkan dengan menggunakan lingkaran dan
garis penghubung, dengan fase yang dapat menghubungkan pada garis-garis
tersebut. Kegiatan ini dapat dilakukan secara individual maupun
kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Al Hudlori , Manshur. 2010. Studi
Tentang Penerapan Pembelajaran
Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (Paikem) Mata
Pelajaran Penjasorkes Di Sma Negeri Se-Kabupaten. Karanganyar Tahun
2010. Skripsi tidak dipublikasikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret: Surakarta
Depdiknas. 2008.
Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tuntas (Mastery-Learning) Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (online)
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/11/02/pembelajaran-tuntas-mastery-learning-dalam-ktsp/ (diakses 22 Januari 2011).
Sidjabat. 2008.
Teori Belajar Aktif Dalam Pembelajaran Pak. Jakarta: Anonim (online)
http://www.tiranus.net/teori-belajar-aktif-dalam-pembelajaran-pak (diakses 22 Januari 2011).
Suparlan, Dasim, dan Danny. 2008.
PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Bandung : PT Genesindo.
Suprijono, agus
. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Pustaka Pelajar: Surabaya
Syah ,Muhibbin dan Kariadinata, Rahayu. 2009
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM). Pendidikan dan Latihan Profesi Guru(PLPG) Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Yani, Ahmad. 2009.
Implementasi Pakem Di Sekolah. Anonim
Zainon. 2009.
Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan, Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Lampung: UNILA Press. (online)
http://blog.unila.ac.id/sinung/2009/09/17/menciptakan-pembelajaran-kreatif
-dan-menyenangkan-untuk-peningkatan-kualitas-pembelajaran/ (diakses 22
Januari 2011).