BANI ABBASIYAH
A. Sejarah Berdirinya Bani
Abbasiyah
Dinasti
Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan
sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbas melewati rentang waktu
yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M.
Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah
dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasulullah
dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan
anak-anaknya.
Kelahiran
bani Abbasiyah erat kaitannya dengan gerakan oposisi yang di lancarkan oleh
golongan syi'ah terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Golongan
Syi'ah selama pemerintahan Bani Umayyah merasa tertekan dan
tersingkir karena kebijakan-kebijakan yang di ambil pemerintah. Hal
ini bergejolak sejak pembunuhan terhadap Husein Bin Ali dan pengikutnya di
Karbela.
Gerakan
oposisi terhadap Bani Umayyah dikalangan orang syi'ah dipimpin oleh Muhammad
Bin Ali, ia telah di bai'ah oleh orang-orang syi'ah sebagai imam. Tujuan utama
dari perjuangan Muhammad Bin Ali untuk merebut kekuasaan dan jabatan khalifah
dari tangan Bani Umayyah, karena menurut keyakinan orang syi'ah keturunan Bani
Umayyah tidak berhak menjadi imam atau khalifah, yang berhak adalah keturunan
dari Ali Bin Abi Thalib, sedangkan bani umayyah bukan berasal dari keturunan
Ali Bin Abi Thalib. Pada awalnya golongan ini memakai nama Bani
Hasyim, belum menonjolkan nama Syi'ah atau Bani Abbas, tujuannya adalah untuk
mencari dukungnan masyarakat. Bani Hasyim yang tergabung dalam gerakan ini
adalah keturunan Ali Bin Abi Thalib dan Abbas Bin Abdul Muthalib. Keturunan ini
bekerjasama untuk menghancurkan Bani Umayyah.
Strategi yang digunakan
untuk menggulingkan Bani Umayyah ada dua tahap :
· Gerakan
secara rahasia
Propoganda
Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia,
akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin abbasiyah yang berkeinginan mendirikan
kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir,
Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti umayyah
dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada
adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui
bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke kuffah.
· Tahap
terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap ini
dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan
kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di
Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahi isi surat rahasia
tersebut ia menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu
pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad
as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad. Abul Abbas sangat beruntung,
karena pada masanya pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan
sebaliknya gerakan oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah
luas pengaruhnya. Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas
untuk menggulingkan khalifah Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk
maksud tersebut Abul Abbas mengutus pamannya Abdullah bin Ali untuk menumpas
pasukan Marwan bin Muhammad. Pertempuran terjadi antara pasukan yang dipimpin
oleh khalifah Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi
sungai Al-Zab Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan
diri ke Mosul, kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. Abdullah
bin Ali terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan akhirnya
terjadi pertempuran disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas karena
pasukannya sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750 M. Pada
tahun 132 H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin Muhammad diangkat dan di bai'ah
menjadi khalifah , dalam pidato pembiatan tersebut , ia antara lain mengatakan
"saya berharap semoga pemerintahan kami ( Bani Abbas ) akan
mendatangkan kebaikan dan kedamaian pada kalian. Wahai penduduk koufah, bukan
intimidasi, kezaliman, malapetaka dan sebagainya. Keberhasilan kami
beserta ahlul Bait adalah berkat pertolongan Allah SWT. Hai
penduduk koufah, kalian adalah tumpuan kasih sayang kami, kalian tidak pernah
berubah dalam pandangan kami, walaupun penguasa yang zalim ( Bani Umayyah )
telah menekan dan menganiaya kalian. Kalian telah dipertemukan oleh Allah
dengan Bani Abbas, maka jadilah kalian orang-orang yang berbahagia dan yang
paling kami muliakan..... ketahuilah, hai penduduk koufah, saya adalah al-saffah". Setelah
Abul Abbas resmi menjadi khalifah ia tidak lagi mengambil Damaskus sebagai
pusat pemerintahan tetapi ia memilih Koufah sebagai pusat pemerintahannya,
dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1) Para
pendukung Bani Umayyah masih banyak yang tinggal di Damaskus
2) Kota
Koufah jauh dari Persia, walaupun orang-orang Persia merupakan tulang punggung Bani Abbas dalam menggulingkan Bani
Umayyah
3) Kota
Damaskus terlalu dekat dengan wilayah kerajaan Bizantium yang merupakan ancaman
bagi pemerintahannnya, akan tetapi pada masa pemerintahan khalifah Al-Mansur
(754-775 M ) dibangun kota Baghdad sebagai ibu kota Dinasti Bani Abbas yang
baru.
B. Masa kekuasaan Bani Abbasiyah
Selama dinasti Bani Abbasiyah berdiri pola pemerintahan
yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan
budaya. Berdasarkan pola pemerinthan itu, para sejarawan biasanya membagi
kekuasaan Bani Abbasiyah pada empat periode :
· Masa
Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya dinasti Abbasiyah tahun 132 H/750 M sampai
meninggalnya khalifah Al-Watsiq 232 H/847 M.
· Masa
Abbasiayah II, yaitu mulai khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M sampai
berdirinya Daulah Buwaihiyah di Baghdad tahun 334 H/946 M.
· Masa
Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya Daulah Buwaihiyah tahun 334 H/946 M sampai
masuknya kaum Saljuk ke Baghdad Tahun 447 H/1055 M
· Masa
Abbasiyah IV, yaitu masuknya kaum saljuk di Baghdad tahun 447 H/1055 M sampai
jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun
656 H/1258 M.
1) Masa
Abbasiyah I ( 132 H/750 M-232 H/847 M )
Masa ini diawali sejak Abul Abbas menjadi khalifah dan
berlangsung selama satu abad hingga meninggalnya khalifah Al-Watsiq. Periode
ini dianggap sebagai zaman keemasan Bani Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena
keberhasilannya memperluas wilayah kekuasaan.
Wilayah kekuasaannya membentang dari laut Atlantik hingga
sungai Indus dan dari laut Kaspia hingga ke sungai Nil. Pada masa ini ada
sepuluh orang khalifah yang cukup berprestasi dalam penyebaran Islam mereka
adalah khalifah Abul Abbas ash-shaffah(750-754 M), Al-Mansyur ( 754-775 M),
Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi (785-786 M), Harun Al-Rasyid (786-809 M), Al-Amin
(809 M), Al-Ma'mun (813-833 M), Ibrahim (817 M), Al-Mu'tasim (833-842 M), dan
Al-Wasiq (842-847 M).
2) Masa
Abbasiyah II ( 232 H/847 M-334 H/946 M)
Periode ini diawali dengan meninggalnya khalifah Al-Wasiq
dan berakhir ketika keluarga Buwaihiyah bangkit memerintah. Sepeninggal
Al-Wasiq, Al-Mutawakkil naik tahta menjadi khalifah, masa ini ditandai dengan bangkitnya
pengaruh Turki.
Setelah Al-Mutawakkil meninggal dunia, para jendral yang
berasal dari Turki berhasil mengontrol pemerintahan. Ada empat khalifah yang
dianggap hanya sebagai simbol pemerintahan dari pada pemerintahan yang efektif,
keempat pemerintahan itu adalah Al-Muntasir (861-862 M ), Al-Musta'in (862-866
M), Al-Mu'taz (866-896 M), dan Al-Muhtadi (869-870 M). Masa pemerintahan ini
dinamakan masa disintegrasi, dan akhirnya menjalar keseluruh wilayah sehinngga
banyak wilayah yang memisahkan diri dari wilayah Bani Abbas dan menjadi wilayah
merdeka seperti Spanyol, Persia, dan Afrika Utara.
3) Masa
Abbasiyah III (334 H/946 M -447 H/1055 M)
Masa ini ditandai dengan berdirinya Dinasti Buwaihiyah,
yaitu Pada masa ini jatuhnya Khalifah Al-Muktafi (946 M) sampai dengan khalifah
Al-Qaim (1075 M). Kekuasaaan Buwaihiyah sampai ke Iraq dan Persia barat,
sementara itu Persia timur, Transoxania, dan Afganistan yang semula dibawah
kekuasaan Dinasti Samaniah beralih kepada Dinasti Gaznawi. Kemudian sejak tahun
869 M, dinasti Fatimiyah berdiri di Mesir.
Kekhalifahan Baghdad jatuh sepenuhnya pada suku bangsa
Turki. Untuk keselamatan, khalifah meminta bantuan kepada Bani Buwaihiyah.
Dinasti Buwaihiyah cukup kuat dan berkuasa karena mereka masih menguasai Baghdad
yang merupakan pusat dunia islam dan menjadi kediaman Khalifah
Pada akhir Abad kesepuluh, kedaulaulatan Bani Abbasiyah
telah begitu lemah hingga tidak memiliki kekuasaan diluar kota Baghdad.
Kekuasaan Bani Abbasiyah berhasil dipecah menjadi dinasti Buwaihiyah di Persia
(932-1055 M), dinasti Samaniyah di Khurasan (874-965 M), dinasti Hamdaniayah di
Suriah (924-1003 M), dinasti Umayyah di Spanyol (756-1030 M), dinasti Fatimiyah
di Mesir (969-1171 M), dan dinasti Gaznawi di Afganistan (962-1187 M)
4) Masa
Abbasiyah IV (447 H/1055 M -656 H/1258 M )
Masa ini ditandai dengan ketika kaum Seljuk menguasai dan
mengambil alih pemerintahan Abbasiyah. Masa seljuk berakhir pada tahun 656
H/1258 M, yaitu ketika tentara mongol menyerang serta menaklukkan Baghdad dan
hampir seluruh dunia Islam terutama bagian timur.
C. Masa Kejayaan Peradaban
Bani Abbasiyah
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai
masa keemasan, secara politis para khalifah memang orang-orang yang kuat dan
merupakan pusat kekuasaan politik sekaligus Agama. Disisi lain kemakmuran
masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan
landasan bagi perkembangan Filsafat dan ilmu pengetahan dalam Islam. Peradaban dan kebudayyan Islam berkembang dan tumbuh
mencapai kejayaan pada masa Bani Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan pada masa
ini Abbasiyah lebih menekankan pada perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam
dari pada perluasan wilayah. Disinilah letak perbedaan pokok dinasti Abbasiyah
dengan dinasti Umayyah. Puncak kejayaan
dinasti Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun Al- Rasyid (786-809 M) dan
anaknya Al-Makmun (813-833 M). Ketika Al-Rasyid memerintah, negara dalam
keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walaupun ada juga pemberontakan
dan luas wilayahnya mulai dari Afrika Utara sampai ke India. Lembaga pendidikan pada masa Bani Abbasiyah mengalami
perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat, hal ini sangat ditentukan oleh
perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku
sejak Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa pengetahuan, selain itu juga ada dua
hal yang tidak terlepas dari kemajuan ilmu pengetahuan yaitu :
a. Terjadinya
asimilasi antara bahasa Arab dengan bahasa bangsa lain yang telah lebih dulu
mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa Bani Abbas,
bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara
efektif dan bernilai guna. Bangsa-bagssa itu memberi saham tertentu bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia sangat kuat dalam
bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam
perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dari bidang
kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani terlihat
dari terjemahan-terjemahan di berbagai bidang ilmu, terutama Filsafat.
b. Gerakan
penerjemahan berlangsung selama tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah
Al-Mansyur hingga Hasrun Al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemah adalah
buku-buku dibidang ilmu Astronomi dan Mantiq. Fase kedua terjadi pada masa
khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemah adalah
bidang filsafat, dan kedokteran. Dan pada fase ketiga berlangsung setelah tahun
300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Selanjutnya bidang-biadang
ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
Di zaman khalifah Harun al- Rasyid (786-809 H) adalah
zaman yang gemilang bagi Islam. Zaman ini kota baghdad mencapai puncak
kemegahannya yang belum pernah dicapai sebelumnya, Harun sangat cinta pada
sastrawan, ulama, Filosof yang datang dari segala penjuru ke Baghdad. Salah
satu pendukung utama tumbuh pesatnya ilmu pengetahuan tersebut adalah
didirikannya pabrik kertas di Baghdad. Orang Islam pada awalnya membawa kertas
dari Tiongkok, usaha pembuatan kertas erat kaitannya dengan perkembangan
Universitas Islam. Pabrik kertas ini
memicu pesatnya penyalinan dan pembuatan naskah-naskah, dimasa itu seluruh buku
ditulis tangan. Ilmu cetak muncul pada tahun 1450 M ditemukan oleh gubernur di
Jerman. Dikota-kota besar islam muncul toko-toko buku yang sekaligus juga
berfungsi sebagai sarana pendidikan dan pengajaran non-formal.
Popularitas Bani Abbasiyah ini juga ditandai dengan
kekayaan yang dimanfaatkan oleh khalifah Al-Rasyid untuk keperluan sosial
seperti Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan faramasi didirikan, dan
pada masannya telah ada sekitar 800 orang dokter, selain itu
pemandian-pemandian umum didirikan. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan,
ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman
keemasannya. Pada zaman inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai
negara terkuat dan tak tertandingi.
Adapun
ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Bani Abbasiayah adalah sebagai
berikut :
v Ilmu
Kedokteran
Pada mulanya Ilmu Kedokteran telah ada pada saat Bani
Umayyah, ini terbukti dengan adannya sekolah tinggi kedokteran Yundisapur dan
Harran.. Dinasti Abbasiyah telah banyak melahirkan dokter terkenal diantaranya sebagai
berikut
· Hunain
Ibnu Ishaq (804-874 M) terkenal segai dokter yang ahli dibidang mata dan
penerjema buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab.
· Ar-Razi
(809-1036 M) terkenal sebagai dokter yang ahli dibidang penyakit cacar dan
campak. Ia adalah kepala dokter rumah sakit di Baghdad. Buku karangannya
dbidang ilmu kedokteran adalah Al-Ahwi.
· Ibnu
Sina (980-1036 M), yang karyanya yang terkenal adalah Al-Qanun Fi
At-Tibb dan dijadikan sebagai buku pedoman bagi Universitas di Eropa
dan negara-negara Islam.
· Ibnu
Rusyd (520-595 M) terkenal sebagai dokter perintis dibidang penelitian pembuluh
darah dan penyakit cacar. Dll.
v Ilmu tafsir
Pada masa
ini muncul dua alirang yaitu ilmu tafsir Al-matsur dan Tafsir
Bir ra'yi, aliran yang pertama lebih menekan pada ayat-ayat Al-Qur'an dan
Hadist dan pendapat tokoh-tokoh sahabat. Sedangkan aliran
tafsir yang kedua lebih menekan pada logika ( rasio ) dan Nash. Diantara ulama
tafsir yang terkenal pada masa ini adalah Ibnu Jarir al-Thabari (w.310 H)
dengan karangannya jami' al-bayan fi tafsir Al-Qur'an,
Al-Baidhawi dengan karangannya Ma'alim al-tanzil, al-Zakhsyari
dengan karyanyaal-kassyaf, Ar-Razi(865-925 M) dengan karangannya al-Tafsir
al-Kabir, dan lain-lainnya.
v Ilmu
Hadist
Pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Aziz
(717-720 M) dari Bani Umayyah sudah mulai usaha untuk mengumpulkan dan
membukukan Hadist. Akan tetapi perkembangan ilmu hadist yang paling menonjol
pada amasa Bani Abbasiyah, sebab pada masa inilah muncul ulama-ulama hadist
yang belum ada tandingannya sampai sekarang. Diantara yang terkenal ialah Imam
Bukhari (W.256
H) ia telah mampu mangumpulkan sebanyak 7257 Hadist dan setelah diteliti
terdapat 4000 hadist Shahih dari yang telah berhasil dikumpulkan oleh imam
Bukhari yang disusun dalam kitabnya Shahih Bukhari. Imam Muslim ( W. 251 H)
terkenal sebagai seorang ulama hadist dengan bukunya Shahih Muslim,
buku karangan imam Bukhari dan Muslim diatas lebih berpengaruh bagi umat Islam
dari pada buku-buku hadist lainnya, seperti Sunan Abu Daud oleh
Abu Daud ( W.257 H) sunan Al- Turmizi oleh
imam Al-Turmizi(W.287 H) Sunan Al-Nasa'i oleh Al-Nasa'i (
W.303 H) dan sunan Ibnu-Majah oleh Imam Ibnu Majah ( W.275
H) keenam buku hadist tersebut lebih dikenal dengan sebutan Al- Kutub
Al-Sittah.
v Ilmu
Kalam
Bukanlah hal yang berlebihan jika dikatakan pada masa
Bani Abbasaiyah merupakan dasar-dasar Ilmu Fiqh. Ilmu ini disusun oleh
ulama-ualama yang terkenal pada masa itu dan masih besar pengaruhnya sampai
sekarang, Diakalangan Ulama Ahlu al-Sunnah wal jamaah. Muncul
Imam Abu Hanifah(810-150 H) yang lebih cendrung memakai akal (rasio) dan
Ijtihad, Imam Malik Bin Anas (93-179 H) yang lebih cendrung memakai hadist dan
menjauhi sampai batas tertentu pemakaian Rasio, Imam Syafi'i (150-204 H) yang
berusaha mengkompromikan aliran Ahl al-Ra'yi, dengan Ahl
al-Hadist dalam Fiqh, dan Imam Ahmad bin Hambal(164-241 H) yang
merupakan tokoh aliran Fiqh yang keras, ketat dan kurang luwes dari
aliran-aliaran fiqh yang lainnya. Buku karang mereka masih dapat kita temukan
sampai sekarang yaitu al-muawatta, al-umm, al-risalah,
dan sebagainya.
v Ilmu
Tashawuf
Dalam bidang ilmu Tashawuf juga muncul ulama-ulama yang
terkenal pada masa pemerintahn Daulah Bani Abbasiyah. Imam Al-Ghazali sebagai
seorang ulama sufi pada masa Daulah Bani Abbasiyah meninggalkan karyanya yang
masih beredar sampai sekarang yaitu buku Ihya' Al-Din, yang
terdiri dari lima jilid. Al-Hallaj (858-922 M) menulis buku tentang
Tashawuf yang berjudul Al-Thawasshin, Al-Thusi
menulis buku al-lam'u fi al-Tashawuf, Al-Qusyairi (W. 465 H)
dengan bukunya al-risalat al-Qusyairiyat fi il'm al-Tashawuf.
v Ilmu
Matematika
Terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Arab menghasilkan
karya dibidang matematika. Diantara ahli matematika islam yang terkenal adalah
Al-Khawarizmi, adalah seorang pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah (ilmu
hitung) dan penemu angka Nol. Tokoh lainnya adalah Abu Al-Wafa Muhammad Bin
Muhammad Bin Ismail Bin Al-Abbas terkenal sebagi ahli ilmu matematika.
v Ilmu
Farmasi
Diantara ahli farmasi pada masa Bani Abbasiyah adalah
Ibnu Baithar, karyanya yang terkenal adalah Al-Mughni (berisi
tentang obat-obatan), jami' al-mufradat al-adawiyah (berisi
tentang obat-obatan dan makanan bergizi). Dan
masih banyak lagi ilmu yang berkembang pada masa Bani Abbasiyah berkuasa, hal
ini terlihat bahwa saat Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) memerintah ia
mendirikan Universitas Mustansiriah di Baghdad yang dapat dibanggakan karena
telah mampu melampaui Universitas di Eropa. Mereke mempunyai Fakultas-fakultas
yang sempurna, mahaguru digaji berdasarkan banyak mahasiswa yang terdapat dalam
Fakultasnya, setiap Mahasiswa dan Mahaguru mendapatkan satu dinar emas setiap
bulannya, dan rata-rata setiap Fakultas tidak ada yang kurang dari 3000
Mahasiswa didalamnya. Setiap Mahasiswa boleh makan ke dapur umum Mahasiswa
dengan Cuma-Cuma, sebuah perpustakaan besar terdapat dalam Universitas itu.
Setiap mahasiswa yang berkeinginan menyalin buku-buku atau ingin menyusun buku
baru, ada sebuah kantor yang mengurus persediaan kertas, pena dan tinta untuk
keperluan itu. Disamping Universitas dibangun sebuah rumah sakit untuk
mahasiswa diperiksa kesehatannya, hal inilah yang menyebabakan berbagai Universitas
di Eropa mengambil contoh pada Universitas Mustansiriah itu.
D. Faktor-Faktor Yang
Menyebabkan Kemunduran Bani Abbasiyah
Menurut W. Montgomery, bahwa beberapa faktor penyebab
kemunduran Bani Abbasiyah adalah :
1. Luasnya
wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah
sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya antara penguasa
dan pelaksana pemerintah sudah sangat rendah.
2. Dengan
profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka
sangat tinggi.
3. Keuangan
negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat
besar. Pada saat iu kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa
pengiriman pajak ke Baghdad.
Sedangkan menurut Dr. Badri Yatim, M. A diantara hal yang
menyebabkan kemunduran Daulah Bani Abbasiayah Adalah :
1. Persaingan
antar bangsa
Khalifah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang
bersekutu dengan orang-orang Persia, persekutuan dilatar belakangi oleh
persamaan nasib pada saat pemerintahan Bani Umayyah, keduanya sama-sama
tertindas. Setelah dinasti Abbasiyah berdiri Bani Abbas tetap mempertahankan
persekutuan itu. Pada masa ini persaingan antar bangsa menjadi pemicu untuk
saling berkuasa. Kecendrungan masing-masing bangsa untuk berkusa telah
dirasakan sejak awal pemerintahan Bani Abbas.
2. Kemerosotan
Ekonomi
Khalifah Abbasiyah juga mengalami kemerosotan Ekonomi
bersamaan dengan Kemunduran dibidang Politik. Pada periode pertama, pemerintahan
Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya, dan keuangan yang masuk lebih
besar dari pada yang keluar, sehingga Baitul Mal penuh dengan Harta. Setelah
khalifah mengalami periode kemunduran , pendapatan negara menurun, dengan
demikian terjadi kemerosotan ekonomi.
3. Konflik
Keagamaan
Fanatisme
keagamaan berkaitan erat dengan masalah kebangsaan. Pada
periode Abbasiyah , konflik keagamaan yang muncul menjadi isu sentra sehingga
terjadi perpecahan. Berbagai Aliran keagaam seperti Mu'tazillah, Syi'ah, Ahlus
sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah
mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.
4. Perang
Salib
Perang salib merupakan sebab dari eksternal ummat Islam.
Pernag salib yang terjadi beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi
dan perhatian Bani Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara salib
sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.
5. Serangan
Bangsa Mongol
Serangan
tentara mongol ke wilayah Islam menyebabkan kekuatan Islam menjadi lemah,
apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan Mongol yang biadab menyebabkan
kekuasaan Abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya menyerah pada kekuatan Mongol.
E. Masa Akhir Kekuasaan Bani
Abbasiyah
Akhir dari kekuasaan Bani Abbasiyah adalah saat Baghdad
dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan (656 H/1258 M).
Ia adalah saudara dari Kubilay Khan yang berkuasa di Cina sampai ke Asia
Tenggara, dan saudaranya Mongke Khan yang menugaskannya untuk mengembalikan
wilayah-wilayah sebelah barat dari Cina kepangkuannya. Baghdad dihancurkan dan
diratakan dengan tanah. Pada mulanya Hulagu Khan mengirim suatu tawaran
kepada Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir Al-Mu'tashim billah
untuk bekerja sama menghancurkan gerakan Assassin. Tawaran tersebut tidak
dipenuhi oleh khalifah. Oleh karena itu timbullah kemarahan dari pihak Hulagu
Khan. Pada
bulan september 1257 M, Khulagu Khan melakukan penjarahan terhadap daerah
Khurasan, dan mengadakan penyerangan didaerah itu. Khulagu Khan memberikan
ultimatum kepada khalifah untuk menyerah, namun khalifah tidak mau menyerah dan
pada tanggal 17 Januari 1258 M tentara Mongol melakukan penyerangan.
Pada waktu
penghancuran kota Baghdad, khalifah dan keluarganya dibunuh disuatu daerah
dekat Baghdad sehingga berakhirlah Bani Abbasiyah. Penaklukan itu hanya
membutuhkan beberapa hari saja, tentara Mongol tidak hanya menghancurkan kota
Baghdad tetapi mereka juga menghancurkan peradaban ummat Islam yang berupa
buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah hasil karya ummat Islam yang tak
ternilai harganya. Buku-buku itu dibakar dan dibuang ke sunagi Tigris sehingga
berubah warna air sungai tersebut, dari yang jernih menjadi hitam kelam karena
lunturan air tinta dari buku-buku tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari penjelasan–penjelasan yang
telah disebutkan, maka dapat kita ambil beberapa kesimpulan. Proses
terbentuknya kekhalifahan Bani Umayyah dimulai sejak khalifah Utsman bin Affan
tewas terbunuh oleh tikaman pedang Humran bin Sudan pada tahun 35 H/656 M. Pada
saat itu khalifah Utsman bin Affan di anggap terlalu nepotisme (mementingkan
kaum kerabatnya sendiri). Setelah wafatnya Utsman bin Afan maka masyarakat
Madinah mengangkat sahabat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang baru. Dan
masyrakat melakukan sumpah setia ( bai’at ) terhadap Ali pada tanggal 17 Juni
656 M / 18 Djulhijah 35 H.
Dinasti umayyah diambil dari nama
Umayyah Ibn ‘Abdi Syams Ibn ‘Abdi Manaf, Dinasti ini sebenarnya mulai dirintis
semenjak masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan namun baru kemudian
berhasil dideklarasikan dan mendapatkan pengakuan kedaulatan oleh seluruh
rakyat setelah khalifah Ali terbunuh dan Hasan ibn Ali yang diangkat oleh kaum
muslimin di Irak menyerahkan kekuasaanya pada Muawiyah setelah melakukan
perundingan dan perjanjian. Bersatunya ummat muslim dalam satu kepemimpinan
pada masa itu disebut dengan tahun jama’ah (‘Am al Jama’ah) tahun 41 H (661 M).
Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan ummat
Islam yang merupakan masa keemasan dan kejayaan dari peradaban ummat Islam yang
pernah ada. Pada masa Bani Abbasiyah kekayaan negara melimpah ruah dan
kesejahteraan rakyat sangat tinggi. Pusat peradaban Islam mengalami kemajuan
yang pesat sehingga pada masa ini banyak muncul para tokoh ilmuan
dari kalangan Ummat Islam, baik itu ilmu pengatuhan yang bersifat umum seperti
ilmu kedokteran yang telah mencetak dokter seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan
lain-lainnya, sehingga pada masa ini telah ada lebih dari 800 dokter yang
berada di kota Baghdad. Dalam bidang matematika melahirkan ilmuan bernama
Al-Khawarizmi yang merupakan penemu angka Nol. Demikian juga dari biang ilmu
agama, adanya perkembangan ilmu tafsir, ilmu kalam, filsafat Islam, dan ilmu
tashauf, yang juga melairkan tokoh-tokoh dibidang ilmu masing-masing. Pada masa
pemerintahan khalifah Harun Al-rasyid kesejahteraan ummat sangat terjamin,
karena pada masa inilah puncak dari kejayaan Bani Abbasiyah, pembangunan
dilakukan dimana-mana, baik pembangunan rumah sakit, irigasi, dan
pemandian-pemandian umum.
B. SARAN
Demikianlah isi dari makalah kami,
yang menurut kami telah kami susun
secara sistematis agar pembaca mudah untuk memahaminya. Berbicara mengenai
sejarah, maka sejarah merupakan ilmu yang tidak akan pernah ada habisnya.
Ingatlah, orang yang cerdas adalah orang yang belajar dari sejarah.
Sering kali kita lupa bahwa
“meskipun” berkisah mengenai masa lampau, tapi sejarah begitu penting bagi
perjalanan suatu bangsa. Melalui sejarah, kita belajar untuk menghargai
perjuangan para pendahulu kita, belajar menghargai tetes darah dan keringat
mereka untuk apa yang kita nikmati saat ini. Lewat sejarah kita juga belajar
dari pengalaman masa lalu, dan menjadikannya sebagai modal berharga untuk
melangkah di masa depan
Islam merupakan agama yang besar
dengan perjalanan sejarah yang panjang. maka dari itu, marilah kita menggali
lebih jauh lagi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sejarah Islamiah. Demi
menguatkan keteguhan dan rasa kebanggaan hati kita terhadap agama Islam yang
kita peluk ini.
DAFTAR PUSTAKA
- Drs. Amin, Samsul Munir,M. A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2009
- Prof. Dr. H. Harun, Maidir dan Drs. Firdaus, M. Ag, Sejarah Peradaban Islam jilid II, Padang : IAIN-IB Press, 2001
- Dra. Hj. Ismail, Chadijah, sejarah pendidikan Islam, Padang : IAIN-IB Press, 1999
- Wahid, N. Abbas dan Suratno, Khazanah Sejarah Kebudaan Islam, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009
- Dr. Yatim,Badri, M. A, Sejarah Peradaban Islam ( Dirasah Islamiyah II ), Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1993
Tidak ada komentar:
Posting Komentar